kegiatan

Ngaji Bersama Kiai Asep: Pikirkan Dulu Setiap Aktivitas, Berdampak Positif Apa Negatif

Whatsapp

MOJOKERTO (AmanatulUmmah.com) – “Apabila engkau hendak mengerjakan suatu perkara, maka pikirkanlah dahulu akibat-nya, apabila akibatnya baik kerjakanlah, apabila akibatnya buruk tinggalkanlah,” kata Prof DR KH Asep Saifuddin Chalim MA, di depan para siwa MAN Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto, Kamis (31/8/2023), pagi tadi.

Kiai Asep menegaskan hal ini, sesuai dengan kitab Fatkhul Hadist. “Kata-kata bijak dalam kitab Fatkhul Hadist ini sangat saya senangi. Sehingga saat muda saya tak pernah pisah dengan kitab ini,” kata Kiai Asep.

Dijelaskan, aktivitas adalah sesuatu yang lazim bagi setiap manusia baik bermain, belajar, beribadah maupun bekerja. Akan tetapi dari sekian banyaknya aktivitas yang dilakukan oleh setiap manusia pasti menimbulkan efek, baik efek positif maupun negatif. Bahkan dalam berkata-kata.

Kedua efek ini dapat ditinjau dengan tinjauan agama, dunia, atau pun akhirat. Apabila menurut ketiganya sudah selaras maka sudah bisa dijadikan tanda bahwa aktivitasnya bernilai positif. Karena ketiga hal di atas adalah tolok ukur yang tidak boleh diabaikan oleh setiap manusia yang menginginkan kebahagiaan dan keselamatan.

Beda Kesenangan

Namun setiap manusia mempunyai kesenangan masing-masing dalam beraktivitas. Kesenangan yang berbeda di dalam beraktivitas karena dipengaruhi adanya akal yang berfungsi untuk membedakan dan hati untuk merasakan apa yang diterima olehnya.

Akal dan hati merupakan bagian dari panca indra yang paling urgen untuk kehidupan. Ibarat akal, selain berfungsi sebagai pembeda juga masih banyak fungsi-fungsi yang terdapat di dalam akal.

Seperti sebagai penyaring informasi, memikirkan yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah, yang berbahaya dan yang bermanfaat, dan lain sebagainya.

Sedang hati, selain berfungsi sebagai perasa juga berfungsi sebagai pusat pengaturan peredaran darah, sebagai pusat keputusan keinginan untuk melakukan suatu perkara, sebagai pusat penyaringan setiap perkara yang diterima dari panca indra lainnya, dan sebagai pusat penggerak anggota badan manusia.

Akan tetapi setiap manusia dapat mengabaikan aktivitas yang tidak disenanginya baik itu yang bersifat mainan, pekerjaan, ataupun yang lainnya.

Kalau pun positif, juga masih perlu dipertimbangkan.

”Pikirkan apakah pekerjaan itu kuat kalian lakukan apa tidak. Kalian senangi atau tidak. Kalau tidak kuat (tidak meng-cover) ya ditinggalkan, karena ditengah pekerjaan, kalian nanti akan tidak betah atau bosan,” jelas Kiai Asep.

Antara aktivitas dan kesenangan adalah dua perkara yang senantiasa berkesinambungan pada diri manusia. Pada umumnya manusia tidak akan mau meninggalkan aktivitas yang disenanginya.

Namun meskipun demikian, tidaklah semua aktivitas yang disenangi dan dikerjakan menimbulkan nilai positif bagi nya. Oleh karena itu sangat baik sekali apabila setiap perkara hendaknya dipikirkan terlebih dahulu akibatnya.

3 Faktor Penentu

Kecerdasan akal, kekuatan hati, dan ilmu memang tiga faktor yang harus dimiliki oleh setiap manusia agar dapat menyikapi setiap perkara dengan baik. Maksud baik di sini adalah baik menurut pandangan syariat bukan baik menurut keinginan manusia.

Karena baik menurut syariat dan baik menurut keinginan manusia ini mempunyai perbedaan. Ada pun perbedaan yang menonjol adalah kalau baik menurut syariat sudah berdasarkan kemaslahatan agama, dunia, dan akhiratnya, akan tetapi kalo baik menurut keinginan manusia belum tentu maslahat untuk agama, dunia, dan akhiratnya.

Walaupun tidak selalu seperti itu, akan tetapi mayoritasnya hanya maslahat satu sisi. Baik itu hanya maslahat untuk agamanya dan maslahat untuk dunianya atau maslahat untuk dunianya saja tapi maslahat untuk agama dan akhiratnya.
Maslahat atau kebagusan agama, dunia, dan akhirat adalah tujuan akhir dari segala aktivitas yang dilakukan oleh setiap manusia.

Ketiga tujuan tersebut dapat diraih ketika aktivitas yang dilakukan oleh manusia didasari dengan kekuatan hati, kecerdasan akal, dan bekal ilmu yang cukup untuk aktivitasnya.

Sekali lagi ketiga faktor ini (hati, akal, dan ilmu) adalah hal yang urgen untuk dimiliki oleh manusia yang ingin hidupnya terhindar dari kerusakan atau kesesatan, yang disebabkan aktivitas dirinya sehingga ia dapat hidup bahagia.

Kebahagiaan itu sendiri dapat dirasakan apabila dalam beraktivitas menghasilkan nilai yang positif. Karena apabila hasil akhir dari adanya aktivitas bernilai negatif sudah barang tentu akan mempengaruhi psikolog dan semangat beraktivitas. (Moch Nuruddin)

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *